Penerimaan dan Pengubahan Mindset Mengenai Anggapan Cantik dan Kaya: Sebuah Refleksi Diri Berdasarkan Kutipan dari Buku Fall, Winter and Spring karya Nancy Dinar
Esai Reflektif Karya Alvi Lailatil
(Juara II Kompetisi Menulis Fall, Winter, & Spring 2025)
Tertampar dengan salah satu kutipan dari buku berjudul Fall, Winter and Spring karya Nancy Dinar di halaman 59 yang isinya kurang lebih begini “Zuri, jika uang membuat orang bahagia, maka orang paling kaya adalah orang yang paling bahagia. Jika kecantikan yang membuat orang bahagia maka orang yang paling cantik yang paling bahagia. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Lihatlah siapa orang yang paling berbahagia di dunia ini.” Di bagian ini tokoh Zuri sedang mendapatkan nasihat mengenai realita yang terjadi serta bagaimana anggapan kebanyakan orang tidak sepenuhnya benar mengenai kekayaan dan kecantikan. Ketika berbicara mengenai sebuah kebahagiaan nyatanya memang bias, subjektif dan tidak ada parameter paten untuk mengukurnya. Setiap manusia memiliki impian, cita-cita dan tujuan yang dijadikan patokan untuk mencapai kebahagiaannya masing-masing. Mungkin saja, bagimu dengan kaya bisa bahagia namun bagi orang kaya justru kesehatanlah yang diidam-idamkan sepanjang masa.
Kecantikan dan kekayaan adalah dua hal yang dijunjung tinggi dan paling dicari banyak orang, termasuk diriku yang merasa tidak memiliki keduanya. Dengan kehidupanku sekarang ini, memiliki paras rata-rata, pekerjaan tidak pasti dan jungkir balik dalam mencukupi kebutuhan tentu saja memimpikan kecantikan serta kekayaan sudah menjadi bagian rutinitas. Dikarenakan pandangan masyarakat yang menyamaratakan anggapan mengenai cantik dan kaya membuat seseorang bahagia, akhirnya mereka juga memaksakannya pada orang lain bahkan yang sebetulnya sudah bahagia dengan apa yang dimilikinya. Dikutip dari buku berjudul Influence karya Robert B. Cialdani halaman 2 menjelaskan dalam sebuah kehidupan ada yang namanya pola tindakan tetap (fixed-action pattern) yakni sebuah tindakan yang teratur dan berulang. Satu kelompok masyarakat mengikuti anggapan maupun rekomendasi dari kelompok lain yang dianggap menguntungkan begitu juga dengan perspektif keinginan untuk bisa cantik dan kaya agar hidup lebih bahagia. Manusia terkadang lupa untuk berpegang teguh dengan batasan yang sudah dibuat sebelumnya sehingga ketika banyak masalah datang mereka seolah meluap seperti banjir yang tak mampu dibendung lagi. Bukannya sadar dengan memperbaiki apa yang salah justru mencari-cari kebahagiaan semu dari harapan-harapan yang menghibur semu itu.
Setelah membaca review dan kutipan-kutipan dari buku Fall, Winter and Spring rasanya keinginan untuk mengejar kecantikan dan kekayaan itu mulai sirna. Terkadang ekspektasi dan keinginan kita berjalan di luar nalar seolah kita paling tahu apa yang membuat kita bahagia. Mata, kita menjadi rabun dan mengaburkan apa-apa yang kita miliki saat ini yang mungkin saja tidak dimiliki oleh orang yang memiliki kecantikan maupun kekayaan. Cantik itu relatif, kekayaan juga subjektif namun kesehatan, kemampuan dan skill tidak semua orang bisa memilikinya. Dari pada sibuk memikirkan untuk bisa kaya dan cantik dengan rebahan dan membiarkan pikiran kita bekerja tanpa arah lebih baik kita ubah konsepnya untuk glow-up ke arah lebih baik. Untuk menjadi kaya, langkah-langkah apa saja yang sudah kamu lakukan? Pekerjaan apa saja yang sudah kau ambil termasuk berapa persen gaji yang bisa disisihkan? Selain itu jangan lupa latih kemampuan baru untuk bekal side job maupun penyelamat ketika sewaktu-waktu harus keluar dari tempatmu kerja sekarang. Kemudian untuk jadi cantik pahami dulu maksud cantiknya. Bukankah dengan merawat kulit, badan dan tubuh juga bisa menjadikan kita cantik? Memiliki kulit bersih, sehat dan tubuh ideal juga menjadi impian banyak orang. Dengan sehat, bugar dan cantik kita memang lebih percaya diri bahkan bisa menunjang karir untuk bisa lebih sukses. Jadi, apa saja yang sudah kamu lakukan untuk memperjuangkan semua itu?
Buku ini juga sebagai bentuk refleksi diri karena terbangun dari mimpi-mimpi kelam, sudah saatnya untuk benar-benar berbenah mengenai mindset serta membedakan mana kenyataan yang harus dijalani dan keinginan yang sekiranya tidak terlalu dikejar. Zuri punya semuanya namun dirinya tak mendapatkan kasih sayang cukup, kesehatan yang menurun dan masih mengejar kecantikan. Dia memilih meninggal dalam keadaan cantik, bukankah pilihan ini terdengar konyol padahal dia sangat mampu mendapatkan pengobatan maksimal untuk penyembuhannya? Namun tak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi Zuri begitu juga orang lain tak tahu rasanya jadi aku. Hidup itu seolah melihat rumput tetangga paling hijau dan seterusnya akan begitu tanpa henti kalau kita tak memiliki syukur maupun kendali sebagai batas diri. Kita adalah satu-satunya orang yang mampu mengendalikan diri jangan sampai pikiran kita justru mengontrol semua tindakan yang diinginkan pikiran. Stop overthinking!! Mulailah dengan semangat dan planning baru untuk hidup lebih glow-up dibandingkan sebelumnya. Bukan kaya melainkan hidup cukup dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, membeli apa yang diinginkan dan juga cukup dalam hal kasih sayang orang sekitar. Bukan cantik, melainkan sehat, buga, berpakaian rapi, menarik dan memiliki kapabilitas mumpuni
untuk menunjukkan kemampuan diri. Dengan mengubah makna dari impian yang kita miliki maka semuanya menjadi lebih mudah digapai. Bukankah tak ada yang tidak mungkin di dunia ini?
***
**Esai ini diadaptasi atau terinspirasi dari novel “Fall, Winter, and Spring karya Nancy Dinar “