Naskah Buku Tak Pernah Selesai, Mungkin 5 Ini Penyebabnya

Categories: Tip Menulis
No Comments

Hai, Stilovers! Apakah di antara kalian punya cita-cita untuk menyelesaikan naskah buku, dan menjadi seorang penulis?

Menjadi penulis merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Kenapa? Karena selain kreativitas dan imajinasi, seorang calon penulis juga harus memiliki komitmen yang tinggi untuk bisa menyelesaikan naskah buku.

Nah, komitmen ini yang sering hilang dan jarang dimiliki oleh calon penulis sehingga naskah-naskah bukunya tidak pernah selesai.

Karen Miller seorang penulis wanita asal Vancouver, British Columbia, Canada pernah berkata, “Penulis yang malas menyelesaikan naskah buku, tidak akan pernah jadi seorang penulis.”

Gimana nih, Stilovers, apakah kalian yakin untuk menjadi penulis? Sebab banyak sekali lo keluhan dan kendala saat kamu sedang menyelesaikan naskah buku.

Salah satu hal yang paling terkenal adalah istilah writing block. Untuk kalian yang sering menulis–baik itu menulis buku, artikel, atau apa pun itu–pasti akrab kan dengan istilah tersebut? Writer’s block adalah kondisi saat kita kebingungan untuk melanjutkan naskah buku yang sudah kita tulis, hingga akhirnya naskah jadi mandek dan kita lupa untuk menyelesaikannya alias terlanjur malas.

Selain malas dan writing block, yang menjadi alasan tulisanmu tidak pernah selesai adalah distraksi atau kesulitan untuk berkonsentrasi yang diakibatkan oleh banyak hal.

Nah, Stilovers, supaya kita bisa mengubah hal tersebut, dan akhirnya bisa menyelesaikan naskah buku yang sudah kita mulai, yuk, kenali 5 penyebab naskah buku kamu tidak pernah selesai.

5 Penyebab Naskah Buku Tak Pernah Selesai

Entrepreneur Talks - naskah buku
Entrepreneur Talks – Konon, naskahnya diselesaikan dalam waktu 6 bulan saja.

1. Melupakan Kerangka Naskah atau Outline

Outline atau kerangka naskah buku adalah sesuatu yang pokok dan harus disiapkan oleh seorang calon penulis.

Fungsi dari kerangka naskah adalah untuk menjaga pokok ide dari cerita kamu. Kerangka naskah juga mempermudah kamu untuk menulis lanjutan cerita. Banyak orang yang melupakan tahapan untuk membuat kerangka naskah dulu, dan cenderung langsung menuliskan ceritanya begitu saja. Padahal tanpa kerangka naskah, peluangmu untuk mengalami writing block akan lebih besar.

2. Kurang referensi buku/bacaan

Tidak ada ide adalah alasan klasik yang digunakan oleh calon penulis. Konon sih, niat untuk menulis sudah muncul, tetapi idenya tidak.

Membaca buku ataupun artikel bisa menjadi salah satu pemantik ide kamu untuk bisa menyelesaikan naskah buku. Dengan membaca buku, maka semakin bertambah referensi kita terhadap berbagai hal.

Selain untuk memantik ide agar keluar dari kepala, memiliki referensi bacaan yang beragam juga dapat membantumu untuk menciptakan suatu karakter dan konflik yang lebih rapi. Rajin membaca juga memengaruhi tulisan kamu lo, Stilovers. Sering kali terjadi nih, penulis bisa merangkai ide cerita yang bagus, tapi tidak diikuti dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami.

And read a lot. Reading a lot really helps. Read anything you can get your hands on.

JK Rowling.

3. Terdistraksi Internet

Internet memang sangat berguna untuk mencari sumber informasi. Tapi, terkadang kita tidak dapat mengendalikan diri.

Niatnya buka Google untuk browsing dan melanjutkan naskah buku, tapi mampir dulu ke marketplace dan media sosial, dan berlama-lama di sana. Kamu yang kerap melakukan ini pasti lagi nyengir sendiri sekarang. Iya kan? 🙂

Selama kamu sedang menyelesaikan naskah buku, ada baiknya kamu singkirkan dulu gawai kamu, Stilovers. Jika perlu matikan dulu sambungan internet, agar kamu bisa fokus menulis dan berhasil menyelesaikan naskah buku yang sudah kamu mulai.

Hobi Jadi Bisnis - naskah buku
Naskah Hobi Jadi Bisnis diselesaikan lebih dari 1 tahun.

4. Tidak Membuat Deadline Untuk Diri Sendiri

Meskipun kamu sedang belajar menulis cerita dan tidak berhubungan dengan penerbit mana pun sehingga tidak ada tenggat yang harus dikejar, kamu tetap perlu membuat deadline atau target kapan naskahmu harus selesai.

Jika perlu, tuliskan target menulismu per hari. Misalnya, hari ini kamu harus menulis bab 1 dari pukul 09.00 – 13.00 dengan target 10 halaman. Hal itu akan membuat kamu menjadi disiplin dan lebih cepat untuk menyelesaikan naskah buku, Stilovers.

5. Menulis berdasarkan suasana hati

Jika ingin menjadikan menulis sebagai profesi kamu, maka kamu harus membuang jauh-jauh hal ini.

Pasalnya jika masih menjadikan suasana hatimu sebagai acuan menulis, sepertinya kamu akan selalu kesulitan untuk menyelesaikan naskah buku sampai kapan-kapan. Kalau naskah buku tak pernah selesai, maka kamu juga harus membuang mimpimu untuk menjadi penulis.

Kegiatan menulis memang diperlukan suasana hati yang mendukung, tetapi kamu tidak bisa beralasan untuk tidak menulis di saat suasana hatimu sedang galau. Sebab–ini kenyataan pahit–tidak ada yang akan peduli dengan suasana hatimu, apalagi penerbit buku yang kamu incar. Yang mereka mau tahu adalah naskah buku kamu terkirim, selesai, dan bagus.

Maka sebaiknya tanyakan kembali pada dirimu sendiri, sanggupkah kamu menulis secara profesional dan mengesampingkan masalah pribadi?.

Untuk menjadi seorang penulis buku itu memang tidak mudah, Stilovers, karena diperlukan mental dan kemauan yang tangguh. Mulai kenali dirimu sendiri dan temukan apa yang menjadi kegelisahanmu, lalu tulislah sampai perasaan gelisah itu hilang.

Jangan takut untuk mencoba, karena sering kali kita meragukan tentang apa yang kita pikirkan alias belum mulai sudah takut duluan.

So, segera selesaikan naskah buku yang sudah kamu mulai, dan kirimkan ke Stiletto Book untuk diterbitkan ya. Follow akun Instagram Stiletto Book untuk berbagai tip menulis yang bisa membantumu untuk menyelesaikan naskah buku itu.

Let your pen be your dreamcatcher.

J. Dispenza.

Semoga bermanfaat!

Salam,
Icha
Editor Magang Stiletto Book

Your Thoughts