Menulis Cerita Fiksi, Hilangkan 7 Kebiasaan Buruk Ini!

Categories: Tip Menulis
No Comments

Stilovers, sebagai seorang penulis, tentu saja kita harus mengembangkan diri kita melakukan berbagai kebiasaan baik agar tujuan kita menjadi seorang penulis sukses tercapai. Apalagi jika kita ingin bisa menjadi seorang penulis yang sukses dan gape menulis cerita fiksi, seperti JK Rowling, Stephen King, Neil Gaiman, dan yang lainnya.

Supaya tujuan kita tercapai bisa menulis cerita fiksi dengan baik, selain berdisiplin diri, kita juga harus melakukan evaluasi dan menyingkirkan beberapa kebiasaan buruk yang menghambat kita untuk maju. Betul nggak, Stilovers?

Termasuk saat menulis cerita fiksi. Ada beberapa hal yang sering kita lakukan saat menulis yang kemudian membuat cerita fiksi yang kita tulis menjadi kurang apik, kurang dalam, kurang rapi, dan sebagainya. Kalau begini, kans naskah kita untuk diterbitkan kan semakin kecil. Masa iya sih, kamu selalu menjadi penulis yang naskahnya selalu ditolak oleh penerbit?

Nah, sebagai penulis, yuk, ketahui kebiasaan buruk apa dalam menulis cerita fiksi yang bisa kita jadikan PR untuk kita perbaiki. Jika salah satu atau beberapa kebiasaan ini sering kamu lakukan, sekaranglah saatnya untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu.

Inilah kebiasaan buruk saat menulis cerita fiksi dan cara mengatasinya.

Menulis Cerita Fiksi, Hilangkan 7 Kebiasaan Buruk Ini!

1. Terlalu banyak memasukkan ego dalam tulisan

Sadarilah saat menulis cerita fiksi, apakah kamu sedang memamerkan pengetahuan atau memaksakan pendapatmu masuk ke dalam cerita?

Well, Stilovers, ini cerita fiksi ya, bukan karya ilmiah. Bagus jika kamu punya pengetahuan yang luas, argumen yang kuat, dan data-data akurat. Tapi pergunakanlah hal-hal tersebut untuk menguatkan ceritamu, secara plot, karakter tokoh, dan elemen-elemen lainnya.

Tulisan tidak akan enak dibaca jika terlalu banyak ego penulis yang dimasukkan. Gunakan sesuai porsinya.

2. Kesalahan tata bahasa dan penulisan kata yang tidak sesuai KBBI

Ayolah, ini tahun 2019, Dear. Sudah nggak seharusnya lagi, kita sebagai penulis cerita fiksi, mengabaikan aturan-aturan menulis paling dasar yang diberikan di Sekolah Dasar ini kan?

Lagi pula, kita bisa belajar dari mana saja, kan? Bahkan kita tidak harus punya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk dapat mengecek kata baku. Kita bisa mengecek kata yang sesuai KBBI secara online. Atau, follow aja akun Instagram Stiletto Book, karena Stiletto sering bagi-bagi kata baku di sana lo!

3. Masih mengabaikan kritik dan saran dari pembaca?

Tahu nggak sih, Stilovers, terkadang sebuah kritikan dari pembaca bisa kita jadikan pelajaran menulis gratis, lo!

Mungkin kita memang sudah tahu kelemahan dan kekurangan dari tulisan kita, tapi bisa jadi ada yang memang kita tidak tahu. Pernah mendengar pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak, kan? Itu artinya, terkadang kita sebagai manusia sering kurang bisa melihat kesalahan diri sendiri. Maka pergunakanlah “mata” orang lain yang bisa melihat kuman ini untuk menunjukkan kesalahan kita di mana, sehingga kita bisa memperbaikinya.

So, dalam menulis cerita fiksi, kritik justru bisa menjadi bahan refleksi untuk mengetahui kekurangan ataupun kelebihan yang belum kita sadari. Tetaplah percaya diri dan ambil masukan yang baik buat tulisan kita.

4. Menulis alur cerita dan adegan yang terlalu klise

broken vow
Sudut pandang yang unik, menjadikan novel Broken Vow enak dibaca

Cerita cinta di sekolah yang diawali dengan adegan tokoh utama yang bangun pagi? Atau jatuh cinta setelah tabrakan tak sengaja di koridor sekolah?

Hmmm. Apa nggak bosan menulis cerita dan adegan yang sudah banyak ditulis orang lain, bahkan sebelumnya, kamu pun menulis cerita fiksi semacam itu?

Lakukan inovasi, Dear! Tidak ada salahnya juga kalau kamu menulis dengan alur ataupun genre yang lain. Siapa tahu kamu dapat ide segar di genre yang baru. Membaca lebih banyak buku akan memperkaya referensimu.

5. Menulis dengan gaya lama

Mungkin kamu penggemar berat sastra klasik Indonesia maupun luar negeri, tapi… tahukah kamu bahwa penulis-penulis idolamu dahulu menulis dengan gaya yang berkembang di zaman mereka pada saat itu?

Jadi, yuk, kita juga ikut berkembang dan menyesuaikan dengan perkembangan itu. Menulislah dengan gaya yang baru, ya. Kamu masih bisa kok, menulis cerita fiksi seperti novel roman, fantasi, sejarah, atau bahkan cerita anak, seperti pada umumnya. Tapi, cobalah untuk memberikan sesuatu yang berbeda.

Bisa jadi kamu malah menemukan gaya menulismu sendiri yang unik.

6. Memberi judul panjang dan asal sensasional

Untuk cerita fiksi, percayalah, judul pendek yang simpel tapi pas dengan isi buku akan lebih menarik perhatian dan mudah diingat. Remember Paris, Broken Vow, Awaiting You. Suka nggak dengan judul-judul novel Stiletto Book yang seperti itu? Bikin penasaran kan?

So, mulai sekarang pikirkanlah judul pendek yang menarik untuk naskahmu, ya.

7. Menulis cerita fiksi yang bertele-tele

Berusahalah untuk tidak menulis cerita fiksi yang bertele-tele ya, Dear. Fokuslah pada konflik utama, kemudian seluruh cerita yang kamu tulis harus mendukung alur konflik yang dialami tokoh utamamu itu.

Misalnya kamu ingin menulis tentang seorang perempuan muda yang sedang berusaha menggapai mimpinya di Eropa, maka halaman halaman-halaman kisah percintaan hanyalah sebagai bumbu yang mempermanis keseluruhan cerita perjuangannya mewujudkan mimpi.

Kamu memang harus jeli dan jangan sampai ada bagian-bagian yang tidak konsisten, ya.

Nah, sudah siap menulis cerita fiksi yang lebih baik dan jadi penulis sukses? Stiletto Book masih menunggu karya-karyamu untuk diterbitkan lo! Tak masalah jika kamu menerbitkan naskah cerita fiksi kamu itu secara indie, karena kamu selalu bisa mempromosikannya tanpa terikat waktu.

Yuk, mulai menulis sekarang!

Your Thoughts