Naskah Buku Fiksi Ditolak Penerbit Buku Mayor? Mungkin 7 Ini Alasannya!

Categories: Tip Menulis
No Comments

Kalian pasti setuju kalau menulis memang merupakan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi jika naskah buku fiksi yang sudah kamu tulis bisa diterbitkan oleh penerbit buku mayor incaranmu, dan dibaca oleh banyak orang.

Setelah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan kita menulis, biasanya kita pun langsung mengirimkan naskah buku fiksi yang telah jadi tersebut ke penerbit buku mayor, dengan harapan, naskah kita akan diterbitkan menjadi sebuah buku dan beredar di toko-toko buku. Namun, ketika mendapatkan surat dari penerbit buku bahwa naskah kita “ditolak”, mimpi untuk memiliki sebuah buku dan mendapatkan royalti dari penjualannya pun kandas seketika.

Eits, jangan larut dalam kekecewaan, Dear! Tentu ada beberapa pertimbangan dari penerbit buku sehingga naskah buku fiksi (yang sudah ditulis dengan sepenuh hati) itu ditolak. Yes, menerbitkan sebuah buku, bagi sebuah penerbit buku mayor, bukan sekadar perkara mewujudkan impian seseorang. Ada berbagai hal yang harus dipertimbangkan dalam sebuah keputusan menerbitkan buku. Tentu saja setiap penerbit (dan penulis juga, kan?) ingin buku yang telah diterbitkan laku terjual.

Yup, setiap penebit buku mayor memiliki penilaian yang berbeda-beda.

Nah, berikut ini ada beberapa alasan kenapa naskah buku fiksi yang sudah kamu tulis ditolak oleh penerbit buku mayor, dalam hal ini Penerbit Stiletto Book.

1. Tema yang Kurang Sesuai

Aku Kopi dan Kamera - naskah buku fiksi
Aku, Kopi, dan Kamera – novel terbaru Stiletto Book dengan tokoh utama perempuan

Sebelum mengirimkan naskah, sebaiknya kita kenali dulu penerbit buku mayor yang kita tuju. Ini banyak terjadi lo! Para calon penulis tidak melakukan riset dulu terhadap penerbit buku incarannya. Maka, pantas saja kans naskah buku fiksi yang ditulis untuk diterbitkan tipis, karena tidak tahu naskah yang dicari oleh penerbit buku.

Bukalah situs web penerbit buku tersebut, cari tahu buku apa saja yang diterbitkannya, dan bacalah buku-buku dari penerbit tersebut untuk menilai apakah naskah buku fiksi yang akan kita kirimkan memiliki visi dan misi yang sejalan. Biasanya kita bisa menemukan syarat dan ketentuan pengiriman naskah dalam situs web tiap penerbit buku, termasuk Stiletto Book.

Jadi, sebelum kamu mengirimkan naskahmu ke email redaksi Stiletto Book, baca dulu syarat pengiriman naskahnya, ya. Naskah buku fiksi bertema perempuan dan cerita novel dengan tokoh utama perempuanlah yang memiliki peluang untuk diterbitkan di Stiletto Book.

Perhatikan juga apakah tema yang kamu garap cukup marketable dan bermanfaat untuk pembaca Stiletto Book.

2. Karakter tokoh kurang kuat

Kalau naskahmu adalah naskah buku fiksi, maka kamu harus memberi perhatian khusus pada pengembangan karakter tokohnya.

Karakter tokoh yang kuat akan membuat cerita menjadi hidup. Gambarkan karakter-karakter tokoh melalui perilakunya, sikap sang tokoh, dan penilaian dari tokoh lain, atau melalui hal-hal tersirat lainnya.

Terlalu banyak karakter tokoh yang dijelaskan langsung oleh narator akan membuat pembaca seperti dipaksa menilai karakter tokoh tersebut seperti yang dimaui oleh penulisnya. Padahal bisa jadi pembaca punya penilaian yang berbeda.

Karakter tokoh yang kurang kuat ini merupakan salah satu alasan kenapa sebuah naskah tidak dapat diterbitkan.

3. Emosi tidak sampai kepada pembaca

Aku Bukan Dia - naskah buku fiksi
Novel Aku Bukan Dia yang sarat dengan emosi

Ketika kita membaca sebuah novel atau cerpen, kemudian kita dapat ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh para tokohnya, bahkan sampai ikut menitikkan air mata, atau kita tersenyum-senyum ketika ada sesuatu yang manis dialami oleh sang tokoh, berarti penulis cerita tersebut telah berhasil menyampaikan emosi ceritanya kepada pembaca.

Namun sebaliknya, jika editor penerbit buku tidak merasakan apa-apa saat membaca sebuah naskah buku fiksi, maka bisa dipastikan naskah tersebut akan ditolak.

4. Terlalu banyak adegan yang tidak mendukung cerita

Meskipun sebuah novel memiliki ruang bercerita hingga beratus-ratus halaman, namun penulis sebaiknya hanya memasukkan adegan-adegan penting yang mendukung jalannya cerita.

Hindari menuliskan dialog-dialog basa-basi yang hanya akan memperlambat alur cerita ya, Dear. Novel seperti itu akan membuat pembaca merasa bosan dan enggan melanjutkan membaca ke halaman selanjutnya.

Editor pun pasti akan menolak naskah buku fiksi yang seperti itu.

5. Terlalu banyak menjelaskan

Kekuatan sebuah cerita adalah menunjukkan, bukan menjelaskan (showing, not telling).

Jika penulis hanya menceritakan secara detail apa yang dilakukan oleh tokoh, bagaimana karakternya, emosi apa yang dialaminya, dan bukan apa yang terjadi atau dialami si tokoh, maka naskahnya kemungkinan besar akan ditolak.

Berikan deskripsi secukupnya, dan usahakanlah untuk tetap membangun kedekatan emosi antara teks dan pembaca.

6. Logika cerita lemah

Logika cerita yang kuat akan membuat cerita dalam naskah buku fiksi kamu semakin hidup.

Untuk itu dibutuhkan riset yang mendalam agar logika cerita kuat. Namun sebaliknya, jika penulis kurang melakukan riset dan eksplorasi pada tema ceritanya, maka logika ceritanya akan tampak lemah. Terkadang malah ada satu bagian cerita yang bertolak belakang dengan bagian lainnya.

Kemungkinan besar editor akan menolak naskah buku fiksi tersebut.

7. Mengandung unsur SARA dan pornografi

Dalam menulis naskah buku fiksi, bisa jadi secara langsung maupun tidak, pandangan pribadi penulis berdasarkan pengalaman dan wawasannya akan ikut masuk ke dalam cerita.

Kita harus ekstra hati-hati untuk memasukkan pandangan pribadi ini, Dear. Terutama jika itu berkaitan dengan SARA. Redaksi Stiletto Book akan menolak naskah buku fiksi yang mengandung unsur SARA dan pornografi.


Nah, itulah beberapa alasan kenapa naskah buku fiksi yang kamu kirimkan ditolak oleh penerbit buku mayor, utamanya Stiletto Book.

Naskahmu bisa saja mengandung satu poin, atau bahkan seluruh poin di atas. Sekarang, apakah kamu sudah tahu kira-kira kenapa Stiletto Book menolak naskahmu? Kalau kamu sudah tahu apa kekurangan naskahmu, yuk, belajar lagi dan memperbaikinya!

Lalu, jangan berhenti mencoba untuk mengirimkan naskahmu yang lainnya ke redaksi Stilletto Book. Semoga sukses ya, Dear! 🙂

Warm regards,
Weka Swasti
Editor Stiletto Book

Your Thoughts