Menarik Perhatian Editor Penerbit di 30 Halaman Pertama

Categories: Tip Menulis
No Comments

Betapa senangnya, setelah berbulan-bulan, bahkan memasuki tahun sekian, akhirnya naskahmu selesai ditulis. Lalu bagaimana supaya tulisanmu bisa dikonsumsi banyak pembaca? Apakah, akan cukup di-publish di blog, diterbitkan indie, atau … (sepertinya semua penulis pasti mau) dikirim untuk direview oleh editor penerbit? Siapa tahu diterbitkan dan diedarkan di toko buku kan?

Ketika pilihanmu jatuh di opsi terakhir, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencari tahu bagaimana syarat dan ketentuan yang diinginkan penerbit yang kamu incar.

Apa saja yang perlu kamu siapkan? Haruskah mengirim naskah dalam bentuk print out atau cukup dengan menggunakan surel? Apakah penerbit menginginkan full naskahmu, atau cukup 30 halaman pertama, seperti Stiletto Book?

Lalu, bagaimana caranya ya, supaya editor penerbit melirik naskahmu? Karena pasti ada banyak kiriman naskah buku lain yang menumpuk di meja redaksi, menunggu direview dan diloloskan untuk terbit.

Seberapa besar sih peluangmu, untuk bisa menarik perhatian editor penerbit, hingga kemudian naskah bukumulah yang diputuskan untuk diterbitkan?

Nah, mari kita bahas sedikit poin-poin sederhana yang bisa menarik perhatian editor penerbit agar naskahmu lolos seleksi.

4 Hal yang Harus Kamu Perhatikan Agar Editor Penerbit Tertarik Naskahmu di 30 Halaman Pertama

1. Attitude

broken vow
Novel Broken Vow karya Yuris Afrizal, hasil kiriman naskah melalui email yang lolos dan berhasil best selling.

Siapa bilang penulis nggak penting untuk punya attitude baik? Setiap orang yang sopan dan ramah tentu lebih disenangi orang lain kan daripada bersikap sangat menyebalkan? Begitu juga editor.

Untuk bersikap baik dengan editor penerbit itu bagaimana? Apakah perlu dengan pujian, hadiah, atau mendekatinya secara intens?

No, nggak usah berlebihan. Cukup sederhana saja. Misal, ketika kamu mengirim naskah beserta kelengkapannya, sertakan juga surat pengantar. Nggak perlu panjang-panjang kok. Buat aja surat pengantar yang singkat, informatif dan unik. Ibarat mengucapkan salam ketika bertamu, jadikan surat pengantar sebagai salam bertamu ke email redaksi.

Nah, pastinya, editor juga lebih menghargai naskahmu, daripada nerima naskah di email, yang misalnya hanya ada sebuah attachment, tanpa subjek email, apalagi hasil forward sent item ke penerbit lain. Wah.

Selain itu, Dear, jadilah penulis yang sabar. Kamu tahu bahwa masa tunggu naskahmu di sebuah penerbit, misalnya satu bulan. Maka tunggulah satu bulan itu sampai selesai. Jangan sampai (karena saking pengin tahunya) belum habis satu bulan, sudah berkali-kali kamu tanyakan ke redaksi.

Ingat, editor itu tidak hanya membaca naskahmu saja. Setiap bulan, ada puluhan sampai ratusan naskah yang masuk dan antre dibaca. Kalau ada seratus penulis yang sama nggak sabarnya, terus kapan editor mau baca naskah kalau sibuk menjawab pertanyaanmu terus menerus?

Apalagi, kalau satu pertanyaan, kamu kirim ke semua akun jejaring sosial penerbit. Duh, editor juga jadi serasa diteror nih.

Jadilah penulis sabar ya. Cukup tanyakan nasib naskahmu jika masa tunggumu habis dan belum ada jawaban.

2. Kepatuhan

Sebelum mengirim naskah bukumu ke penerbit, tentu kamu wajib lebih dulu tahu, apa saja yang perlu disiapkan. Misalnya penerbit menyediakan form untuk kelengkapan naskah, maka patuhilah, Dear. Jangan dianggap ribet ya, lalu dengan begitu kamu jadi seenaknya mengubah format formulir yang tersedia. Padahal penerbit menyediakan form tersebut karena mereka membutuhkan datamu sesuai dengan poin-poin yang mereka buat.

Kemudian, dalam pengiriman naskah, ada penerbit yang cukup dengan email untuk mengirimkan naskahmu secara penuh. Ada yang minta dikirim dalam bentuk print out full naskah. Juga ada Stiletto Book yang minta sampel naskah lebih dulu yang berisi 30 halaman pertama.

Ini tentunya berkaitan dengan kenyamanan editor akuisisi di masing-masing penerbit. Bisa jadi, ada editor yang lebih suka membaca di layar 14 inci daripada dummy. Atau sebaliknya.

3. Kreativitas

Ada baiknya jadi penulis kreatif loh. Coba kamu pikir, ada ratusan naskah yang dibaca editor penerbit yang semuanya mungkin datar, kemudian naskahmu datang dengan tampilan lain daripada yang lain. Mencuri fokus.

Misalnya, naskahmu dikirim dengan tampilan sangat menarik. Biodatamu dibuat unik dan lengkap. Isinya sudah di-layout, juga kamu sertakan sampul lucu yang kamu bikin sendiri.

Padahal, layout dan sampul jika naskahmu lolos seleksi nantinya akan dibuatkan oleh penerbit. Tapi tidak ada salahnya kan mempercantik naskah sendiri? Editor juga lebih seneng baca naskah yang cantik daripada naskah standar, apalagi masih berantakan, karena penulisnya malas mengedit.

Namun, perlu diingat ya, Dear. Jangan sampai karena saking kreatifnya, kamu keluar jalur dari ketentuan yang disyaratkan. Misalnya, penerbit meminta font naskahmu Calibri, eh, kamunya malah mengubah font yang justru membuat editor jadi pusing karena sama sekali tidak bisa dibaca.

4. Naskah

Menarik Perhatian Editor Penerbit di 30 Halaman Pertama

Masuk ke isi naskah. Kalau uraian tadi membahas tentang bagaimana menarik perhatian editor penerbit dari “luar”, sekarang kita bahas ke bagian yang lebih dalam.

Berikut adalah beberapa poin penting untuk menulis naskah buku, terutama fiksi, untuk kamu perhatikan:

Sinopsis

Ingat, sinopsis tentu lain dengan blurb. Biasanya, penerbit akan meminta sinopsis naskahmu, bukan blurb.
Sinopsis isinya lebih mendetail, menguraikan keseluruhan alur cerita, tidak ada yang ditutup-tutupi, dan membuat editor tidak paham yang akan kamu tulis. Buatlah sinopsis yang menarik dan tidak lebih dari dua halaman. Sinopsis yang terlalu panjang, berpeluang membuat editor merasa bosan lebih dulu.

Beri naskahmu judul yang beda dan menarik.

Hindari pemakaian judul yang mirip dengan judul-judul yang sudah ada. Itu terkesan pasaran dan kurang kreatif.

Tema yang fresh

Usunglah tema-tema yang segar. Atau bisa juga, berangkat dari tema lawas tapi dengan gaya penyajian yang baru. Soal tema, ketika kamu selesai menulis, ada baiknya kirimkan naskahmu ke penerbit yang berhaluan tema sama dengan naskahmu.

Hindari plot standar

Buatlah writing hook atau opening yang beda. Banyak penulis yang membuka cerita dengan hal yang sudah basi banget. Misalnya, paragraf pertama diawali dengan bunyi alarm di kamar si tokoh utama, dilanjutkan dengan kalimat, “Aku bangun kesiangan dan bla-bla-bla”. Kan sudah banyak sekali buku yang mengawali cerita seperti ini. Please, be creative!

Buatlah pembuka yang menggoda dan menimbulkan rasa penasaran pembaca

Ingat, editor penerbit sering kali diburu waktu untuk menyelesaikan menyeleksi ratusan naskah. Tentu mereka tidak mau membuang banyak waktunya untuk sekadar membaca naskah yang belum-belum sudah membosankan.
Catat, paragraf pertama, dan bab pertama naskahmu itu penting sekali sebagai pintu masuk editor membaca habis naskahmu.

Hindari penokohan yang kurang real.

Kamu membuat tokoh yang jahat selalu jahat (biasanya ada di sinetron-sinetron yang akhirnya meninggal atau tobat) atau tokoh yang terlalu baik sampai-sampai tidak punya sisi buruk. Hindari penokohan yang terlalu hitam dan putih.
Hapus dari naskahmu konflik-konflik yang tidak mendukung konflik utama, karena ini akan mengesankan alurmu jadi tidak fokus.
Hindari memunculkan terlalu banyak nama tokoh di halaman pertama naskahmu karena akan membuat editor (dan pembaca) bingung sebelum waktunya.


Oke, Dear. Cukup begitu dulu ya tips dari Stiletto. Semoga bisa bermanfaat. Dan jangan lupa, tetap menulis. Cek lagi speeling dan grammar di naskahmu sebelum dikirim ke penerbit.

Stiletto tunggu kiriman naskahmu (lagi). Sampai ketemu di email redaksi! Ikuti juga Instagram Stiletto Book untuk mendapatkan update-update baru seputar buku-buku Stiletto Book.

With love,

@tikahkumala

Your Thoughts